Aplikasi Belajar Orang Dewasa


APLIKASI TEORI BELAJAR ORANG DEWASA DALAM KEGIATAN BELAJAR DAN PEMBELAJARAN


BAB I 
     Pendahuluan
Pada dasarnya "orang dewasa" memiliki banyak pengalaman baik dalam bidang pekerjaannya maupun pengalaman lain dalam kehidupannnya. Bagi tenaga kependidikan luar sekolah, teori belajar  orang dewasa tidak hanya sekedar diketahui, tetapi lebih dari itu, teori belajar itu harus dapat diaplikasikan dalam setiap tahap kegiatan belajar dan membelajarkan agar proses/interaksi belajar yang dikelolanya dapat berlangsung secara efektif dan efisien.
Tentu saja untuk menghadapi peserta pendidikan yang pada umumnya adalah "orang dewasa" dibutuhkan suatu strategi dan pendekatan yang berbeda dengan "pendidikan dan pelatihan" ala bangku sekolah, atau pendidikan konvensional yang sering disebut dengan pendekatan Pedagogis. Dalam  praktek "pendekatan pedagogis" yang diterapkan dalam pendidikan dan pelatihan seringkali tidak cocok. Untuk itu, dibutuhkan suatu pendekatan yang lebih cocok dengan "kematangan", "konsep diri" peserta dan "pengalaman peserta". Di dalam dunia pendidikan, strategi dan pendekatan ini dikenal dengan "Pendidikan Orang Dewasa" (Adult Education).
2.     Pengertian
Malcolm Knowles dalam publikasinya yang berjudul "The Adult Learner, A Neglected Species" mengungkapkan teori belajar yang tepat bagi orang dewasa. Sejak saat itulah istilah "Andragogi" makin diperbincangkan oleh berbagai kalangan khususnya para ahli pendidikan.
Andragogi berasal dari bahasa Yunani kuno "aner", dengan akar kata andr- yang berarti laki-laki, bukan anak laki-laki atau orang dewasa, dan agogos yang berarti membimbing atau membina, maka andragogi secara harafiah dapat diartikan sebagai ilmu dan seni mengajar orang dewasa. Sedangkan  istilah lain yang sering dipergunakan sebagai perbandingan adalah "pedagogi", yang ditarik dari kata "paid" artinya anak dan "agogos" artinya membimbing atau memimpin. Maka dengan demikian secara harafiah "pedagogi" berarti seni atau pengetahuan membimbing atau memimpin atau mengajar anak.
Karena pengertian pedagogi adalah seni atau pengetahuan membimbing atau mengajar anak maka apabila menggunakan istilah pedagogi untuk kegiatan pelatihan bagi orang dewasa jelas tidak tepat, karena mengandung makna yang bertentangan. Pada awalnya, bahkan hingga sekarang, banyak praktek proses belajar dalam suatu pendidikan yang ditujukan kepada orang dewasa, yang seharusnya bersifat andragogis, dilakukan dengan cara-cara yang pedagogis. Dalam hal ini prinsip-prinsip dan asumsi yang berlaku bagi pendidikan anak dianggap dapat diberlakukan bagi kegiatan pendidikan bagi orang dewasa.
Namun karena orang dewasa sebagai individu yang sudah mandiri dan mampu mengarahkan dirinya sendiri, maka dalam andragogi yang terpenting dalam proses interaksi belajar adalah kegiatan belajar mandiri yang bertumpu kepada warga belajar itu sendiri dan bukan merupakan kegiatan seorang guru mengajarkan sesuatu (Learner Centered Training / Teaching)







BAB II
ISI

APLIKASI TEORI
BELAJAR ORANG DEWASA DALAM KEGIATAN
BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

  A.   TAHAP-TAHAP KEGIATAN DAN MEMBELAJARKAN
Kegiatan belajar dan membelajarkan pada garis besarnya dapat dibedakan atas tahap-tahap seperti berikut :
1.      Perumusan Tujuan Pembelajaran.
Rumusan tujuan pembelajaran merupakan pernyataan tentang apa yang diharapkan untuk
diketahui, dilakukan, dan dihayati oleh warga belajar setelah mereka menyelesaikan suatu kegiatan belajar. Kemampuan yang diperoleh sebagai hasil mengalami belajar, pada hakikatnya berupa perubahan tingkah laku yang dapat diukur atau paling tidak ada sesuatu yang dapat dijadikan indikator terjadinya perubahan.
2.     Pengembangan Alat Evakuasi

Untuk mengukur keberhasilan dan pencapaian suatu tujuan pembelajaran, perlu disusun alat
evaluasi yang sesuai dengan perubahan tingkah laku. Pada tahap ini dirancang sejenis alat evaluasi yang akan digunakan yaitu ; tes lisan, tulisan, dan perbuatan.
3.     Analisis Tugas Belajar dan Identifikasi Kemampuan Warga Belajar
Kemampuan yang ingin dicapai sebagai tujuan pembelajaran, diurai (dianalisis) atas unsur
tingkah laku membentuk kemampuan tersebut. Pada tahap ini juga diidentifikasi karakteristik individual warga  belajar, seperti kecerdasan/bakat, kebiasan belajar, motivasi belajar, kemampuan awal dan kebutuhan belajar, dan terutama yang menyangkut kesulitan belajar.
4.     Penyusunan Strategi  Belajar-Membelajarkan
Strategi belajar-membelajarkan pada hakikatnya adalah rencana kegiatan belajar dan membelajarkan yang dipilih oleh fasilitator untuk dilaksanakan, baik oleh warga belajar maupun oleh sumber belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran.
Strategi belajar dan membelajarkan mencakup jawaban atas pertanyaan berikut :
a.     Siapa melakukan apa dan menggunakan alat apa dalam proses interaksi belajar
b.     Bagaimana melaksanakan tugas belajar dan membelajarkan yang telah diidentifikasi
c.      Kapan dan dimana kegiatan belajar dilaksanakan dan berapa lama kegiatan tersebut dilaksanakan.
Kegiatan ini menyangkut  uraian tentang jadwal dan tempat pelaksanaan kegiatan belajar, format, dan lama waktu pertemuan. Selain itu diperlukan sebuah pengkajian dan penganalisisan komponen sistem pembelajaran yang dapat digunakan melaksanakan fungsi tersebut pada komponen sistem yang dilibatkan dalam upaya pencapaian tujuan. Secara singkat, strategi belajar membelajarkan mencakup perencanaan yang bisa dilihat dibawah ini :
1)    Komponen sistem yaitu sumber dan pamong belajar
2)    Jadwal pelaksanaan, format, dan lama kegiatan telah disiapkan
3)    Tugas yang akan dipelajari telah diidentifikasi
4)    Materi atau bahan belajar, alat pelajaran dan alat bantu penyajianpelajaran telah disiapkan dan diatur
5)    Masukan dan karakteristik warga belajar telah diidentifikasi
6)    Bahan pengait telah direncanakan
7)    Metode dan teknik penyajian telah dipilih
8)    Media yang digunakan telah disediakan

5.     Pelakasanaan Kegiatan Belajar dan Membelajarkan

Tahap ini merupakan pelaksanaan strategi belajar-membelajarkan yang telah disiapkan pada tahap sebelumnya :
a.     Pengelolaan kelas : Klasikal, kelompok , tim, perseorangan, termasuk pula pengaturan tempat duduk berbanjar, segi empat, bundar, oval, atau tapal kuda.
b.     Penyelenggaraan tes atau tanya jawab untuk memperoleh balikan mengenai penguasaan warga belajar mengenai bahan pelajaran baru
c.     Penyajian bahan pelajaran sesuai dengan  metode dan teknik  penyajian yang dikemukakan dalam strategi belajar-membelajarkan
d.     Pemberian Motivasi dan penguatan
e.     Diskusi atau tanya jawab, kerja kelompok, perseorangan
f.      Pemantauan proses interaksi belajar

6.     Pemantapan Hasil Belajar
Tahap kegiatan ini tidak terstruktur dalam jadwal kegiatan belajar kelompok belajar, tetapi mereka laksanakan di rumah, baik sebagai tugas rumah maupun kegiatan mandiri untuk menelaah, mereview tugas dari tutor/fasilitator. Tugas pekerjaan rumah, selain untuk memantapkan hasil belajar, juga merupakan pengisi waktu senggang sehingga mereka tidak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif.
7.     Evaluasi Hasil dan Program Belajar

Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh balikan tentang :
a.     Tahap pencapaian tujuan pembejaran /program kegiatan belajar , keseksamaan perumusan tujuan
b.     Kesusaian antara metode dan teknik penyajian dengan sifat bahan pelajaran, tujuan yang ingin dicapai, karakteristrik warga belajar, kemampuan dasar warga belajar
c.     Keberhasilan program dalam mencapai tujuan program
d.     Keseksamaan alat evaluasi yang digunakan dengan tujuan program yang ingin dinilai keberhasilannya.

8.     Perbaikan Program Kegiatan Belajar
Warga  belajar yang gugur dalam mencapai tingkat keberhasilan yang telah ditetapkan perlu diterapkan pengajaran remidial mengenai aspek, pokok bahasan dari tugas belajar, dan tujuan pembelajaran yang belum dikuasai. Dengan menganalisa hasil evaluasi dan pelaksanaan fungsi dari setiap komponen dan tahap kegiatan, dapat diketahui komponen dan tahap kegiatan mana yang perlu direvisi atau diperbaiki.

B.    APLIKASI TEORI BELAJAR ORANG DEWASA
Teori belajar orang dewasa yang relevan untuk setiap tahap kegiatan belajar, mempunyai beberapa tahap  sebagai berikut :
1.     Perumusan Tujuan Program
Tujuan program ini ialah untuk menyatakan domain tingkah laku serta tingkatan tingkah laku yang ingin dicapai sebagai hasil belajar. Demikian itu rumusan tujuan program yang merupakan aplikasi teori behaviioristik dan taksonomi Bloom. 
Berdasarkan   tujuan program belajar, fasilitator memilih dan mengroganisasikan bahan pelajaran yang sesuai, menyiapkan atau memilih bahan dan alat penyajian yang relevan, serta menetapkan strategi belajar-membelajarkan yang akan ditempuh.

2.     Pengembangan Alat  Evaluasi

a.     Tahap pencapaian tujuan pembejaran /program kegiatan belajar , keseksamaan perumusan tujuan
b.   Kesusaian antara metode dan teknik penyajian dengan sifat bahan pelajaran, tujuan yang ingin dicapai, karakteristrik warga belajar, kemampuan dasar warga belajar
c.    Keberhasilan program dalam mencapai tujuan program
d.   keseksamaan alat evaluasi yang digunakan dengan tujuan program yang ingin dinilai keberhasilannya

3.     Analisis Tugas Belajar dan Identifikasi Kemampuan
Teori belajar  yang relevan dengan kegiatan analisis tugas, antara lain sebagai berikut :

a.     Teori Gesttailt meliputi hukum :
1)    Hukum Pragmanz (penuh arti) yaitu pengkelompokan objek suatu bahan pelajaran berdasrkan kriteria atau kategori tertentu. Seperti , warna, bentuk, dan ukuran sehingga mempunyai arti.
2)    Hukum kesamaan/keteraturan : tugas yang unsurnya mempunyai kesamaan dan teratur, lebih mudah dipahami daripada yang berbeda dan tidak teratur.

b.    Teori Medan
Belajar memecahkan masalah merupakan pengubahan struktur kognitif.
Contoh :
Membuat bujur sangkar seluas 200 cm² dengan menggunakan 2 (dua) buah bujur sangkar yang masing-masing luasnya 100 cm².
Identifikasi  karakteristik kemampuan warga belajar, meliputi hal-hal sebagai berikut :
a)    Perbedaan karakteristik individu warga belajar dilihat dari segi psikologis, yaitu perbedaan kecerdasan/bakat, kecepatan belajar, motivasi belajar, perhatian, cara berfikir, dan daya ingat
b)    Pengetahuan masukan. Pengetahuan masukan yang telah dikuasai dapat dijadikan bahan pengait (advance organizer)  antara pelajaran terdahulu dengan pelajaran baru.
Hasil latihan ataupun pengetahuan tentang cara pemecahan yang telah dikuasai dapat ditransfer untuk memcahkan masalah yang lain  yang dihadapi.
4.         Penyusunan Strategi Belajar-Membelajarkan
Teori belajar bagi orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahapan ini, antara lain sebagai berikut :
a.     Teori Bruner tentang cara mengorganisasi tubuh ilmu yang dipelajari, urutan-urutan pokok bahsan yang disajikan, teknik penyajian enaktif , ekonik, dan simbolik
b.     Teori penyajian bahan verbal yang bermakna  menurut Ausubel
c.     Penataan situasi belajar yang menyangkut berkait dengan belajar dan kondisi belajar menurut Gagne
d.     Metode belajar penyelesaian masalah dengan tekhnik L ramu pendapat, teknik gordon , analisis morfologis, metode buku catatan kolektif, dan metode papan buletin kolektif
e.     Metode belajar/penyajian menemukan. Metode ini memudahkan transfer dan retensi, mempertinggi kemampuan menyelesaikan masalah, serta mengandung motivasi intrinsik
f.      Perbedaan individual dalam hal kecepatan belajar warga belajar.
g.     Pengaturan urutan penyajian bahan pelajaran menurut tingkat kesuliatan dari yang sederhana kebagian yang sulit.






5.     Pelaksanaan Kegiatan Belajar dan Membelajarkan
Teori belajar orang dewasa  yang erat hubungannya dengan tahapan ini , antara lain :
a.     Hukum Kesiapan. Menyiapkan mental warga belajar untuk mengikuti pelajaran baru dengan memberikan penjelasanan yang mengenai pengetahuan masyarkat dengan  singkat.
b.     Penguatan motivasi  belajar. Menjelaskan kegunaan atau nilai praktis pelajaran baru dalam kehidupan dan pengabdian.
c.     Proses persyaratan (conditioning). Proses ini memperlihatkan model hasil belajar terminal untuk memudahkan warga belajar mengenai pengetahuan dan keterampilan.
d.     Hukum unsur yang identik, yaitu mentransfer pengalaman menyelesaikan masalah lainnya yang berkait dengan perasaan atau menerapkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam berbagai situasi , posisi dan kondisi.
e.     Cara menarik perhatian : teori ini mengaitkan kegiatan belajar dan membelajarkan dengan kebutuhan warga belajar, mengolah bahan pelajaran sebagai bahan perlombaan antar individu, kelompok dan baris.
f.      Metode menemukan. Teori ini memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk melakukan sendiri keterampilan yang harus dipelajarinya, bukan fasilitator yang melakukan.
g.     Karya wisata, pengalaman praktik lapangan di labroatorium  atau dibengkel, semua itu bisa menjadi pengalaman yang berkesan bagi warga dalam belajar dan memungkinkannya lebih mengetahui konsep.

6.      Pemantauan Hasil Belajar
Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahap pemantauan hasil belajar antara lain :
a.     Hukum latihan
b.     Belajar lebih lanjut
c.     Revieu,yaitu belajar dengan dengan secara berkala lebih efektif daripada belajar terus menerus tanpa revieu

7.                 Evaluasi Hasil Belajar
Teori belajar orang dewasa yang erat hubungannya dengan tahap evaluasi antara lain :
a.     Pengembangan kemampuan berfikir
b.     Hukum efek
c.     Penguatan
d.     Keputusan penyajian
e.     Hasil evaluasi
Akhirnya , keterampilan fasilitator menyajikan bahan sangat mempengaruhi  efektivitasnya kegiatan belajar dari warga belajar. Fasilitator yang cakap menyajikan pelajaran dan yang menguasai teori belajar orang dewasa lebih giat dan lebih  tekun agar mencapai hasil belajar dan tujuan program kegiatan belajar yang lebih baik.
C.    METODE DAN TEKNIK PEMBELAJARAN ORANG DEWASA
Metode dan teknik pembelajaran memegang peranan penting dalam penyusanan strategi dan pelaksanaan kegiatan belajar membelajarkan. Teknik dapat diartikan sebagai prosedur atau langkah pembelajaran sesuai dengan pengorganisasian warga belajar sehingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran adalah upaya yang direncanakan dan dilaksanakan dengan pengorganisasian warga belajar sehingga mereka dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Teknik pembelajaran dapat digolongkan menjadi tiga bagian, yaitu teknik yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran perseorangan (individual), kegiatan pembelajaran kelompok (group), dan kegiatan pembelajaran orang banyak (massal). Ciri-ciri yang terdapat dalam penggunaan teknik pembelajaran individual sebagai berikut :
1.     Lebih mengutamakan proses belajar oleh warga belajar daripada proses membelajarkan yang dilakukan sumber belajar.  Warga belajar dituntut untuk aktif dalam belajar, cara belajar, dan sumber belajarnya yang dipilihnya.
2.     Terdapat tujuan pembelajaran yang jelas, spesifik, dan dapat di ukur. Dan memiliki tujuan umum dan tujuan khusus. Tujuan umumnya adalah berisi rumusan perubahan sikap dan perilaku umum warga belajar yang akan dicapainya setelah mengikuti pembelajaran. Sedangkan tujuan khususnya yaitu memuat pengalaman belajar tertentu yang harus ditempuh warga belajar  tingkah laku (sikap, pengetahuan, keterampilan, dan aspirasi) tertentu dalam ruang serta waktu tertentu pula.
3.     Warga belajar berperan aktif dalam menentukan tujuan belajarnya, bahan yang akan dipelajari , sumber yang diperlukan dan kapan melakukan kegiatan belajar. Karena itu semua termasuk sumber belajar berperan membantu warga belajar dalam melaksanakan kegiatan belajar.
4.     Terdapat balikan dari warga belajar.  Dalam pembelajaran ini yang berpusat pada warga belajar,  hendaknya bersumber belajar, bahan ajar, maupun mengenai isi dan bahan belajar, maupun mengenai proses dan hasil pembelajaran.
Teknik pembelajaran perseorangan dapat digolongkan kepada teknik yang berpusat pada warga belajar dan teknik yang berpusat pada sumber belajar.  Teknik yang dapat digunakan dalam pembelajaran perseorangan yaitu, modul, paket belajar, penugasan, bermain peran , dan  permainan.
Teknik pembelajaran yang dapat di gunakan dalam membantu anggota kelompok melakukan kegiatan belajar diantaranya ialah tutorial, diskusi kelompok, diskusi enam-enam, latihan, kerja kelompok, curah pendapat, cawan ikan, dan simposium.Tutorial dapat dilakukan antara seorang sumber belajar dengan warga belajar dalam kelompok kecil/besar. Pendekatan pada dasarnya sama dengan tutorial kepada perseorangan, yaitu pemberian bantuan, contoh, atau bimbingan dari sumber belajar yang kemampuannya lebih tinggi dari pada warga beajar.
Teknik diskusi kelompok digunakan dalam situasi pembelajaranyang di tandai oleh tingginya interaksi antarwarga belajar dan antara warga belajar. Diskusi kelompok dapat diartikan sebagai teknik penyajian bahan pembelajaran dan sumberb belajar memberikan kesempatan kepada warga belajar untuk berbincang-bincang ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat simpulan, Teknik ini akan tepat digunakan untuk mengembangkan pemikiran warga belajar dalam menyelesaikan suatu masalah. Dalam kegiatan belajar dalam teknik ini, warga belajar dirangsang untuk responsif terhadap lingkungan, mengidentifikasi dan merumuskan masalah, mencari alternatif pemecahan masalah, menetapkan prioritas penyelesaian setelah mempertimbangkan sumber yang tersedia dan kendala yang mungkin dihadapi, serta merencanakan, melaksanakan, dan menilai kegiatan penyelesaian masalah. Langkah penyelesaian masalahperlu dijelaskan dan dihubungkan dengan tujuan pembelajaran. Teknik diskusi yang yang berpusat pada kelompok belajar ditekankan pada penampilan yang menunjukan tingginya dinamika interaksi antarwarga belajar.
Teknik  diskusi enam-enam merupakan salah satu pengembangan teknik diskusi kelompok karena waktunya singkat, topik diskusi perlu lebih spesifik dan jelas, serta peraturan diskusi hendaknya dipajami dan dilaksanakan dengan baik oleh peserta.  Latihan kelompok digunakan dalam pembelajaran yang bersumber belajarnya memberikan tugas yang harus dilakukan secara kelompok. Kelompok yang memiliki latar belakang yang sama  cenderung lebih efektif melaksanakan tugasnya. Kerja kelompok sangat  berguna untuk memacu motivasi belajar, mengembangkan sikap positif, menggunakan bahan dan alat belajar, dan meningkatkan keterampilan dalam penyelesaian suatu masalah.
Curah pendapat (brainstorming) adalah tekhnik pembelajaran yang digunakan untuk menghimpun pendapat, gagasan, dan pemikiran setiap warga belajar (dalam kelompok). 
Teknik cawan ikan (fish-bowl)  sering digunakan untuk menghimpun gagasan yang dapat digunakan untuk perencanaan awal suatu kegiatan atau untuk mengevaluasi program. Gagasan dihimpun melalui diskusi antar warga. Tempat duduk mereka belajar dibagi menjadi dua, dan satu kelompok ada yang didalam lingkaran dan ada yang diluar lingkaran. Kelompok yang berada didalam lingkaran  melakukan diskusi dan kelompok yang diluar lingakaran adalah sebagai pengamat diskusi.  Apabila warga belajar dilingkaran luar ingin berbicara, ia harus masuk ke lingkaran  dalam dengan memberikan isyarat bertukar tempat  dengan salah seorang rekannya di lingkaran dalam. Sebelum melakukan diskusi ini, warga belajar dibantu oleh sumber belajar untuk menyusun topik atau masalah yang akan disajikan. Topik atau masalah dapat mengenai langkah dan materi perencanaan, proses dan hasil suatu program, atau isi dan proses pembelajaran. 
Teknik pembelajaran yang dapat  dilakukan dalam kegiatan belajar-membelajarkan kelompok besar (massal), antara lain kampanye dan gerakan pembangunan masyarakat. Teknik tersebut melibatkan peserta didik dalam jumlah besar dan jangkauan wilayahnya  lebih luas. Tujuan kegiatan biasanya mencakup keadaan kehidupan masyarakat yang di inginkan dan lebih baik dibandingkan dengan keadaan masyarakat saat ini. Dalam pelaksanaan kegiatan, masyarakat berpartisipasi dalam bentuk tenaga , harta benda, dan atau pemikiran atau mencapai tujuan.
Penilaian program dilakukan secara partisipatif. Aspek yang dinilai ialah perencanaan, proses, hasil, dan dampak kegiatan bersama. Hasil penilaian menjadi masukan dalam pengambilan keputusan yang mereka lakukan. Dengan demikian pembelajaran akan berlangsung dalam siklus perencanaan oleh masyarakat(community sel-planning),  pelaksanaan oleh masyarakat  (Community  self-action),  dan penilaian oleh masyarakat  (Community self-evaluation). Masyarakat sebagai peserta didik atau warga belajar berperan dalam kegiatan, sedangkan sumber belajar berperan sebagai fasilitator membantu masyarakat melaukan kegiatan belajar untuk meningkatkan taraf  hidup dan kehidupan mereka.  

Asumsi-Asumsi Pokok
Malcolm Knowles dalam mengembangkan konsep andragogi, mengembangkan empat pokok asumsi sebagai berikut:
A.    Konsep Diri
Asumsinya bahwa kesungguhan dan kematangan diri seseorang, bergerak dari ketergantungan total (realita pada bayi) menuju ke arah pengembangan diri sehingga mampu untuk mengarahkan dirinya sendiri dan mandiri. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa secara umum konsep diri anak-anak masih tergantung sedangkan pada orang dewasa konsep dirinya sudah mandiri. Karena kemandirian inilah orang dewasa membutuhkan untuk mendapatkan penghargaan orang lain sebagai manusia yang mampu menentukan dirinya sendiri (Self Determination) dan mampu mengarahkan dirinya sendiri (Self Direction). Apabila orang dewasa tidak menemukan dan menghadapi situasi dan kondisi yang memungkinkan timbulnya penentuan diri sendiri dalam suatu pelatihan, maka akan menimbulkan penolakan atau reaksi yang kurang menyenangkan. Orang dewasa juga mempunyai kebutuhan psikologis agar secara umum menjadi mandiri, meskipun dalam situasi tertentu boleh jadi ada ketergantungan yang sifatnya sementara. Hal ini menimbulkan implikasi dalam pelaksanaan praktek pendidikan, khususnya yang berkaitan dengan iklim dan suasana pembelajaran dan diagnosa kebutuhan serta proses perencanaan pendidikan.

B.    Peranan Pengalaman
Asumsinya adalah bahwa sesuai dengan perjalanan waktu seorang individu tumbuh dan berkembang menuju ke arah kematangan. Dalam perjalanannya, seorang individu mengalami dan mengumpulkan berbagai pengalaman pahit-getirnya kehidupan, dimana hal ini menjadikan seorang individu sebagai sumber belajar yang kaya, dan pada saat yang bersamaan individu tersebut memberikan dasar yang luas untuk belajar dan memperoleh pengalaman baru. Oleh sebab itu, dalam teknologi pembelajaran orang dewasa, terjadi penurunan penggunaan teknik transmittal seperti yang dipergunakan dalam pelatihan konvensional dan menjadi lebih mengembangkan teknik yang bertumpu pada pengalaman. Dalam hal ini dikenal dengan "Experiential Learning Cycle" (Proses Belajar Berdasarkan Pengalaman). Hal ini menimbulkan implikasi terhadap pemilihan dan penggunaan metoda dan teknik pembelajaran. Maka, dalam praktek pelatihan lebih banyak menggunakan diskusi kelompok, curah pendapat, kerja laboratori, sekolah lapangan (field school), melakukan praktek dan lain sebagainya, yang pada dasarnya berupaya untuk melibatkan peranserta atau partisipasi peserta pelatihan.
C.    Kesiapan Belajar
Asumsinya bahwa setiap individu semakin menjadi matang sesuai dengan perjalanan waktu, maka kesiapan belajar bukan ditentukan oleh kebutuhan atau paksaan akademik ataupun biologisnya, tetapi lebih banyak ditentukan oleh tuntutan perkembangan dan perubahan tugas dan peranan sosialnya. Hal ini berbeda pada seorang anak, umumnya seorang anak belajar karena adanya tuntutan akademik atau biologisnya. Tetapi pada orang dewasa, kesiapan belajar ditentukan oleh tingkatan perkembangan mereka yang harus dihadapi dalam peranannya sebagai kader, pekerja, orang tua atau pemimpin organisasi. Hal ini membawa implikasi terhadap materi pembelajaran dalam suatu pendidikan tertentu. Dalam hal ini tentunya materi pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan yang sesuai dengan peran sosialnya.

D.    Orientasi Belajar
Asumsinya, pada anak (yang belajar) orientasi belajarnya ‘seolah-olah’ sudah ditentukan dan dikondisikan untuk memiliki orientasi yang berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation). Sedangkan pada orang dewasa, memiliki orientasi belajar cenderung berpusat pada pemecahan permasalahan yang dihadapi (Problem Centered Orientation). Hal ini dikarenakan belajar bagi orang dewasa merupakan kebutuhan untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi dalam kehidupan keseharian, terutama dalam kaitannya dengan fungsi dan peranan sosial orang dewasa.
Selain itu, perbedaan asumsi ini disebabkan juga karena adanya perbedaan perspektif waktu. Bagi orang dewasa, belajar lebih bersifat untuk dapat dipergunakan atau dimanfaatkan dalam waktu segera. Sedangkan anak, penerapan apa yang dipelajari masih menunggu waktu hingga dia lulus dan sebagainya. Sehingga ada kecenderungan pada anak, bahwa belajar hanya sekedar untuk dapat lulus ujian dan memperoleh sekolah yang lebih tinggi.
Hal ini menimbulkan implikasi terhadap sifat materi pembelajaran atau pelatihan bagi orang dewasa, yaitu bahwa materi tersebut hendaknya bersifat praktis (menjawab kebutuhan) dan dapat segera diterapkan di dalam kenyataan sehari-hari.
Beberapa Implikasi Untuk Praktek
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan sementara beberapa perbedaan teoritis dan asumsi yang mendasari andragogi dan pedagogi (konvensional) yang menimbulkan berbagai implikasi dalam praktek.
Dalam pedagogi atau konsep pendidikan konvensional, karena berpusat pada materi pembelajaran (Subject Matter Centered Orientation) maka implikasi yang timbul pada umumnya peranan guru, pengajar, pembuat kurikulum, evaluator sangat dominan. Pihak murid atau peserta belajar lebih banyak bersifat pasif dan menerima. Paulo Freire, menyebutnya sebagai "Sistem Bank" (Banking System). Hal ini dapat terlihat pada hal-hal sebagai berikut:
Penentuan mengenai materi pengetahuan dan ketrampilan yang perlu disampaikan yang bersifat standard dan kaku.
Penentuan dan pemilihan prosedur dan mekanisme serta alat yang perlu (metoda & teknik) yang paling efisien untuk menyampaikan materi pembelajaran.
Pengembangan rencana dan bentuk urutan (sequence) yang standard dan kaku
Adanya standard evaluasi yang baku untuk menilai tingkat pencapaian hasil belajar dan bersifat kuantitatif yang bersifat untuk mengukur tingkat pengetahuan.
Adanya batasan waktu yang demikian ketat dalam "menyelesaikan" suatu proses pembelajaran materi pengetahuan dan ketrampilan.

Dalam andragogi, peranan guru, pengajar atau pembimbing yang sering disebut dengan fasilitator adalah mempersiapkan perangkat atau prosedur untuk mendorong dan melibatkan secara aktif seluruh warga belajar, yang kemudian dikenal dengan pendekatan partisipatif. Dalam  proses belajarnya melibatkan elemen-elemen:

a.     Menciptakan iklim dan suasana yang mendukung proses belajar mandiri.
b.     Menciptakan mekanisme dan prosedur untuk perencanaan bersama dan partisipatif.
c.     Diagnosis kebutuhan-kebutuhan belajar yang spesifik.
d.     Merumuskan tujuan-tujuan program yang memenuhi kebutuhan-kebutuhan belajar.
e.     Merencanakan pola pengalaman belajar.
f.      Melakukan dan menggunakan pengalaman belajar ini dengan metoda dan teknik yang memadai.
g.     Mengevaluasi hasil belajar dan mendiagnosis kembali kebutuhan-kebutuhan belajar, sebagai sebuah proses yang tidak berhenti.
Oleh karena itu, dalam memproses interaksi belajar dalam pendidikan orang dewasa, kegiatan dan peranan fasilitator bukanlah memindahkan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta pelatihan. Peranan dan fungsi fasilitator adalah mendorong dan melibatkan seluruh peserta dalam proses interaksi belajar mandiri, yaitu proses belajar untuk memahami permasalahan nyata yang dihadapinya, memahami kebutuhan belajarnya sendiri, dapat merumuskan tujuan belajar, dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajarnya sesuai dengan perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu.



BAB III
PENUTUP
Oleh karena itu, dalam memproses interaksi belajar dalam pendidikan orang dewasa, kegiatan dan peranan fasilitator bukanlah memindahkan pengetahuan dan ketrampilan kepada peserta pelatihan. Peranan dan fungsi fasilitator adalah mendorong dan melibatkan seluruh peserta dalam proses interaksi belajar mandiri, yaitu proses belajar untuk memahami permasalahan nyata yang dihadapinya, memahami kebutuhan belajarnya sendiri, dapat merumuskan tujuan belajar, dan mendiagnosis kembali kebutuhan belajarnya sesuai dengan perkembangan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Kesimpulan.
Untuk memperluas pemahaman dan meningkatkan keterampilan dalam menggunakan teknik dan mengaplikasikan pembelajaran secara aktif mengenai belajar orang dewasa dalam kegiatan belajar dan pembelajaran. Harus menguasai teknik-teknik dan strategi agar suatu proses warga belajar tersebut bisa dilakukan secara singkat , namun ada action dari warga dalam belajar menjadi aktif sehingga akan menimbulkan manfaat dan pengetahuannya, untuk kehidupannya nanti.
“ Man Making “
We are all blind unless we  see
That in the human plan
Nothing is worth the making
If it does not make the man !

Why build these cities glorious
If man unbuilded goes ?
In vain we build the work unless
The builder also grows!

Daftar Pustaka
Elizabeth hurlock B. 2006. PsikologI perkembangan (suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan). Jakarta, Erlangga.
AECT.1986. Definisi Teknologi Pendidikan. Jakarta

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama