Translate

Selasa, 01 Januari 2013

Nak, Tidak usah jadi Sarjana (From Kompasiana)


بِسْمِ-اللهِ-الرَّحْمنِ-الرَّحِيم

Hiruk piruk dunia pendidikan makin memanas, entah mendidihnya kapan! Tetapi, semua tetap ada misinya ke depan. Mahasiswa yang menduduki bangku perkuliahan tentunya mendapat banyak pelajaran dari bangku kuliahnya, ada pengalaman, edukasi yang dicicipi, dan ada dunia persahabatan dari berbagai etnis yang tidak didapatkan dari sebagaimana bangku SMA. Semua itu yang memebedakan dunia perkuliahan dan dunia per-SD, SMP, dan SMA-an.
Tetapi, di satu sisi, kadang kali setelah sarjana, nilai-nilai itu pudar, persahabatan tak lagi mengikat kokoh, dan nilai beragama sesuai sunnah Rosululloh sepertinya tak membekas. Ada apa dengan sarjana-sarjana ini, yang tidak ada perubahan dari berbagai sisi kehidupannya: kognitifnya biasa saja, afektifnya juga merosot, psikomotornya tak ada.
Nah, untuk itu, mengevaluasi nilai-nilai kesarjanaan harus diketahui.
Teringat pada orasi Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, beliau bertutur saat meyudisium calon sarjana,
“Baik, hadirin, anak-anakku, kita akan melaksanakan salah satu puncak dari proses akademik di jenjang S1 yaitu proses yudisium. Kali ini anak-anakku akan mendapatkan gelar kesarjanaan. Kesungguhan dan keuletan yang semua telah dipertahuruhkan selama hampir kurang lebih 4 tahun. Dari bantuan dan perhatian dosen. Tidak mungkin Anda berdiri seperti ini seandainya mereka tak membantu kita. Seandainya bukan faktor kuasa dari Alloh -subhanahu wa ta’ala-. Oleh karena itu, anak-anakku semua, harus bersyukur kehadirat Alloh subhanahu wa taala atas segala bantuan-Nya.


Saya memohon perhatiannya!
Saya kira Anda tidak bisa seperti ini sekiranya Anda tidak lahir dari rahim ibu. Betapa ibu mengandung kita selama 9 bulan lamanya. Saat itu, kaki ibu satu berada dunia dan satunya berada di liang lahat. Sampai kita dilahirkan, ibu tidak pernah mengeluh dengan apa yang dia rasakan saat itu. Ibu tidak pernah mengeluh yang melahirkan anak-anakku semua. Maka pada hari ini, hari berbangga bisa membahagiakan ibu kita semua.
Apakah anak-anakku mampu membayar lebih baik dari ibu kita?
Ataukah kita bisa membalas pendidikan bapak kita dan semua masukan dia dalam kehidupan?
Kita tamat sekolah: SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, tidak sedikit pengorbanan mereka untuk kita!
Bapak kita mungkin dengan segala kemampuannya menghabiskan tenaganya untuk kita, menyekolahkan anaknya, menyekolahkan Anda semua. Ibu kita melepaskan kita pindah di Makassar untuk melanjutkan harapannya!
Mampukah anak-anakku semua membalas semua itu di dunia ini?
Mereka mengorbankan segala sesuatunya untuk kita semua! Bapak dan ibu kita, syukurlah kalau sekiranya di tempat ini kita bisa menyapa bapak kita, kita bisa menyapa ibu kita! Bisa jadi ada di antara anak-anakku semua yang ada di ruangan ini ditinggalkan orang tuanya sebelum mengucapkan syukur atas kesarjanaan. Mereka tidak bisa lihat itu semua!
Anak-anakku semua, mulai hari ini, niat kita, harapan orang tua yang kita wujudkan, kita syukuri apa yang diberikan oleh Alloh.
***(Proses Yudisium)***
“Baik, anak-anakku semua, saya atas nama Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, hari ini tanggal 22 Nopember tahun 2012, tepatnya pada jam 17.00 waktu Tala Salapang (Makassar), berdasarkan undang-undang, peraturan pemerintah, dan peraturan-peraturan lainnya, maka hari ini anak-anakku semua berhak memakai gelar S.Pd. (Sarjana Pendidikan) di belakang nama anak-anakku semua…”
***
Nah, untuk itu, semua harus kembali pada esensi sebuah pendidikan, ada rasa syukur kepada Allooh, syukur kepada orang tua, dan semua pihak yang membantu, dan kembali merefleksi nilai-nilai kebermanfaatan di masyarakat.
Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar berpesan bahwa para sarjana akan dinilai oleh masyarakat umum, apakah ada nilai kebermanfaatan di masyarakat setelah duduk di bangku kuliah? Yang kedua, adalah lingkungan pendidikan, bagaimana kiranya para sarjana pendidikan bisa memperlihatkan keterampilannya, kemampuan mendidiknya secara baik. Etos kerjana tinggi.
Kalau tidak bisa menunjukkan semua itu, orang tua kita akan menyesal dan berkata, “Nak, tidak usah jadi sarjana kalau begitu!”
Tapi, orang tua seperti ini tidak memahami akan adanya takdir, yang terjadi biarkan terjadi. Yang ada adalah evaluasi!

Makassar, 2 Januari 2013

Salam
Pak Kus

Tidak ada komentar:

Posting Komentar