Translate

Jumat, 02 November 2012

[KiSaHKeHiDuPaN] Cermin yang Terlupakan


Pada suatu ketika, sepasang suami istri, katakanlah nama mereka Smith,
mengadakan 'garage sale' untuk menjual barang-barang bekas yang tidak
mereka butuhkan lagi. Suami istri ini sudah setengah baya, dan anak-anak
mereka telah meninggalkan rumah untuk hidup mandiri. Sekarang waktunya
untuk membenahi rumah, dan menjual barang-barang yang tidak dibutuhkan
lagi.

Saat mengumpulkan barang-barang yang akan dijual, mereka menemukan
benda-benda yang sudah sedemikian lama tersimpan di gudang. Salah satu di
antaranya adalah sebuah cermin yang mereka dapatkan sebagai hadiah
pernikahan mereka, dua puluh tahun yang lampau.

Sejak pertama kali diperoleh, cermin itu sama sekali tidak pernah
digunakan. Bingkainya yang berwarna biru aqua membuat cermin itu tampak
buruk, dan tidak cocok untuk diletakkan di ruangan mana pun di rumah
mereka. Namun karena tidak ingin menyakiti orang yang menghadiahkannya,
cermin itu tidak mereka kembalikan. Demikianlah, cermin itu teronggok di
loteng. Setelah dua puluh tahun berlalu, mereka berpikir orang yang
memberikannya tentu sudah lupa dengan cermin itu. Maka mereka
mengeluarkannya dari gudang, dan meletakkannya bersama dengan barang lain
untuk dijual keesokan hari.

Garage sale mereka ternyata mendapat banyak peminat. Halaman rumah mereka
penuh oleh orang-orang yang datang untuk melihat barang bekas yang mereka
jual. Satu per satu barang bekas itu mulai terjual. Perabot rumah tangga,
buku-buku, pakaian, alat berkebun, mainan anak-anak, bahkan radio tua
yang sudah tidak berfungsi pun masih ada yang membeli.

Seorang lelaki menghampiri Mrs. Smith. "Berapa harga cermin itu?" katanya
sambil menunjuk cermin tak terpakai tadi. Mrs. Smith tercengang. "Wah,
saya sendiri tidak berharap akan menjual cermin itu. Apakah Anda sungguh
ingin membelinya?" katanya. "Ya, tentu saja. Kondisinya masih sangat bagus."
jawab pria itu. Mrs. Smith tidak tahu berapa harga yang pantas untuk
cermin jelek itu. Meskipun sangat mulus, namun baginya cermin itu
tetaplah jelek dan tidak berharga. Setelah berpikir sejenak, Mrs. Smith
berkata,
"Hmm ... anda bisa membeli cermin itu untuk satu dolar." Dengan wajah
berseri-seri, pria tadi mengeluarkan dompetnya, menarik selembar uang
satu dolar dan memberikannya kepada Mrs. Smith.

"Terima kasih," kata Mrs. Smith, "sekarang cermin itu jadi milik Anda.
Apakah perlu dibungkus?"

"Oh, jika boleh, saya ingin memeriksanya sebelum saya bawa pulang." jawab
si pembeli.

Mrs. Smith memberikan ijinnya, dan pria itu bergegas mengambil cerminnya
dan meletakkannya di atas meja di depan Mrs. Smith. Dia mulai mengupas
pinggiran bingkai cermin itu. Dengan satu tarikan dia melepaskan lapisan
pelindungnya dan muncullah warna keemasan dari baliknya. Bingkai cermin
itu ternyata bercat emas yang sangat indah, dan warna biru aqua yang selama
ini menutupinya hanyalah warna dari lapisan pelindung bingkai itu!

"Ya, tepat seperti yang saya duga! Terima kasih!" sorak pria itu dengan
gembira. Mrs. Smith tidak bisa berkata-kata menyaksikan cermin indah itu
dibawa pergi oleh pemilik barunya, untuk mendapatkan tempat yang lebih
pantas daripada loteng rumah yang sempit dan berdebu.

Kisah ini menggambarkan bagaimana kita melihat hidup kita. Terkadang kita
merasa hidup kita membosankan, tidak seindah yang kita inginkan. Kita
melihat hidup kita berupa rangkaian rutinitas yang harus kita jalani.
Bangun pagi, pergi bekerja, pulang sore, tidur, bangun pagi, pegi
bekerja, pulang sore, tidur. Itu saja yang kita jalani setiap hari.

Sama halnya dengan Mr. dan Mrs. Smith yang hanya melihat plastik pelapis
dari bingkai cermin mereka, sehingga mereka merasa cermin itu jelek dan
tidak cocok digantung di dinding. Padahal dibalik lapisan itu, ada warna
emas yang indah.

Padahal di balik rutinitas hidup kita, ada banyak hal yang dapat
memperkaya hidup kita.
Setiap saat yang kita lewati, hanya bisa kita alami satu kali seumur
hidup kita. Setiap detik yang kita jalani, hanya berlaku satu kali dalam
hidup
kita. Setiap detik adalah pemberian baru dari Tuhan untuk kita. Akankah
kita menyia-nyiakannya dengan terpaku pada rutinitas? Akankah kita
membiarkan waktu berlalu dengan merasa hidup kita tidak seperti yang kita
inginkan?

Setelah dua puluh tahun, dan setelah terlambat, barulah Mrs. Smith
menyadari nilai sesungguhnya dari cermin tersebut. Inginkah kita
menyadari keindahan hidup kita setelah segalanya terlambat? Tentu tidak.

Sebab itu, marilah kita mulai mengikis pandangan kita bahwa hidup
hanyalah rutinitas belaka. Mari kita mulai mengelupas rutinitas tersebut dan
menemukan nilai sesungguhnya dari hidup kita.

Marilah kita mulai menjelajah hidup kita, menemukan hal-hal baru, belajar
lebih banyak, mengenal orang lebih baik. Mari kita melakukan sesuatu yang
baru. Mari kita membuat perbedaan! Mari kita jelang tahun yang baru ini
dengan suatu semangat baru untuk menjalani hidup lebih baik setiap hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar